Life = Game

Mungkin aku adalah satu dari sekian banyak orang yang dianugrahi masa kecil yang, secara pribadi, menurutku membahagiakan. Atau memang memoriku di masa aku sangat antusias berbicara sendiri dengan boneka hanya mengingat dan merasakan hal-hal baik. Meskipun, ya, dicubit itu menyakitkan dan dimarahi ketika tidak mau makan itu menyebalkan. Tapi, hanya sekedar itu.

Bahkan ketika masa tersulit dilewati, masa ketika banyak pegawai di pecat, ketika banyak darah di jalanan, ketika ekonomi merosot dan banyak orang dewasa stress dibuatnya, yang aku pikirkan hanyalah rasa kue yang ingin kumakan, permainan meniup gelembung yang kunantikan, atau istana pasir seperti apa yang ingin kubuat. Mau bagaimana lagi, aku masih anak-anak yang hanya memikirkan baju apa yang pantas dipakai di boneka kesayangan. Stress tidak ada dalam kamusku yang masih tipis saat itu. Belum.

Dan hal-hal seperti itu mungkin banyak menimbulkan harapan-harapan bagi orang-orang yang telah beranjak dewasa agar mereka kembali ke masa-masa kecil mereka. Mungkin aku diantaranya.

Namun, benarkah aku mengharapkan aku kembali menjadi Hanifah kecil yang sangat senang bahkan hanya saat aku diberikan permen?

Walaupun memang, ketika aku semakin dewasa konflik yang dialami menjadi lebih pelik dan tanggung jawab semakin banyak.

Tapi, ayolah…
Bahkan di dalam sebuah Game pun semua Players berlomba-lomba ingin Level Up!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s