Balada Tidak Mencontek

Hampir setiap orang memandang ujian di sekolah sebagai hal yang menakutkan. Padahal sejatinya manusia memang selalu dihadapkan dengan berbagai ujian, ujian kehidupan tepatnya. Tidak mungkin tidak ada manusia yang tidak menjalani ujian kecuali ia telah mati. Namun, ujian di sekolah ini agaknya memang menjadi sebuah ujian yang lebih besar daripada ujian-ujian yang lain dan bisa jadi juga dapat menjadi ujian yang benar-benar tak menghasilkan makna apapun di kehidupan sebagian orang.

Mengapa bisa begitu?

Mungkin jawabannya dapat terlihat jelas dari judul yang tertera di atas.

Aku bukannya tidak pernah mencontek. Aku pernah melakukan itu hingga aku duduk di bangku SMP. Saat SD, apalagi saat kelas 6 SD, aku merupakan orang yang mencontek ketika ujian kecuali saat UN dan di kesempatan kali ini aku hanya ingin berbagi cerita tentang balada orang-orang yang memilih untuk berada di jalan yang sama denganku atau ini hanya cerita tentangku?? karena sharing is caring. Yhaa.

Hal itu berubah sejak aku masuk SMP dan menjalani UTS pertama kalinya. Teman-teman baru dan suasana baru, entah kenapa, membuatku ragu untuk mencontek. Padahal, mereka juga mencontek. Kenapa aku tidak ikutan saja? Tapi ketika ada orang yang pertama kalinya bertanya padaku saat ujian, dan aku masih ingat dia siapa, aku hanya melemparkan senyum. Melihat aku yang hanya tersenyum canggung, dia kecewa dan mulai bertanya pada yang lain. Sejak kejadian itu, aku tidak pernah mencontek lagi,

entah mengapa… .

Sebenarnya aku bersyukur akan hal itu karena ada perasaan bangga tersendiri yang mungkin tidak bisa dirasakan oleh orang-orang yang menghasilkan nilai dari mencontek. Namun, tetap saja bapernya ada, maka dari itu tulisan ini muncul dengan judul itu.

Saat SMP, aku tidak terlalu mempedulikan teman-temanku yang mencontek walaupun saat ujian aku selalu kedapatan duduk di kursi paling belakang dan dapat melihat jelas “operasi gotong royong”nya mereka. Tapi aku tidak terlalu memusingkan itu. Pernah suatu ketika pengawas mencurigai isi tempat pensilku yang kalau dilihat dari luar, banyak kertas-kertas kecil yang tersembul di sana. Ketika Pak Pengawas membuka isinya, yang terlihat adalah percakapan tidak penting yang kebanyakan adalah candaan antara aku dengan temanku. Dalam hati aku berkata, hehe zonk ya Pak? Sejak saat itu, Pak Pengawas jadi ramah padaku ketika beliau kedapatan mengawas kelasku lagi.

Ada lagi kejadian saat aku memenangi lomba menulis cerpen di SMP bertema pendidikan dan aku mengangkat topik tentang mencontek dan menjadi juara pertama. Cerpenku dibukukan di majalah sekolah dan aku tidak yakin banyak yang membaca karena cerpennya sangat panjang, kelemahanku adalah membuat cerpen karena hasilnya pasti jadi terlalu panjang untuk cerpen. Saat guru bahasa inggrisku membacanya di kelas sebelum masuk jam pelajarannya, beliau berkata, “Ini cerpennya agak menyentil ya”. Aku tidak tahu bahwa itu akan menjadi cerpen yang “menyentil” karena aku sebenarnya hanya menulis apa yang aku rasakan tentang pendidikan saat ini, atau mungkin aku sudah baper.

Berbeda saat SMA dimana persaingan untuk saling bertahan semakin kuat. Terlebih adanya penularan sikap ambisius secara kontinu pada setiap orang di kelas untuk mendapatkan nilai terbaik. Hal ini membuat aku mulai makin baper dengan teman-temanku. Alhamdulillah, ada satu temanku di kelas yang juga tidak mencontek dan biasanya kami selalu melepaskan penat dan kebaperan kami satu sama lain ketika selesai ujian. Ada juga temanku dari kelas lain yang juga tidak mencontek dan dia benar-benar tidak peduli dengan teman-temannya yang mencontek. Bagi dia, apa yang aku lakukan adalah untuk diriku sendiri, kalau yang lain mencontek, ya itu terserah mereka. Mereka toh pada akhirnya akan mendapatkan hasil yang mereka usahakan.

Kebanyakan orang yang tidak mencontek masih tetap akan memberikan jawaban pada teman-temannya dengan alasan, ga enakan. Ada juga yang memberikan jawabannya ketika ia rasa ia dapat menjawab soal itu dengan mudah tapi tidak memberikan jika soalnya sulit. Aku adalah salah satu dari mereka yang tidak mencontek dan tidak memberikan contekan pula, sama sekali. Mungkin sejak kejadian UTS pertama saat SMP, aku juga jadi enggan memberikan contekan dan mulai menganggap mencontek dan memberikan contekan merupakan hal yang sama. Karena sikapku ini aku dikenal dengan orang yang pelit karena aku memang tidak memberikan kesempatan sama sekali pada mereka bahkan untuk mengintip jawaban yang ada di kertas ujianku.

Untuk apa memangnya? Aku tidak meminta dari kalian, jadi tidak masalah bukan kalau aku tidak memberi? Lagipula aku sudah belajar dan aku berusaha untuk berjuang sendiri di sini. Kalian kan bisa bertanya dengan yang lain.

Kira-kira seperti itulah hal yang kupikirkan ketika aku ragu untuk menolak. Meskipun sebenarnya aku sangat berharap kalau mereka bisa mengerjakannya sendiri.

Karena aku dikenal sebagai orang yang anti memberikan jawaban, teman-teman di kelas selalu membuat candaan tentang betapa pelitnya aku. Bahkan teman-temanku mencap kalau orang yang duduk bersebelahan denganku saat ujian itu sedang sial dan jika kamu mendapat nilai bagus meski duduk denganku, berarti kamu pintar.

Hemm…

Yang paling membuatku tidak nyaman adalah ketika mulai tahun ajaran baru dan teman-temanku berganti. Kenapa? Karena saat ujian pertama diselenggarakan di tahun ajaran baru, aku harus berusaha untuk menjelaskan (lagi) pada mereka tentang aku yang tidak mau memberikan contekan saat ujian dengan hati-hati agar mereka tidak tersinggung. Bahkan ada saja temanku yang masih keras kepala bertanya padaku saat ujian meskipun dia tahu aku tidak mencontek.

Sebenarnya berusaha untuk konsentrasi pada soal ujian di saat teman-temanmu dapat mencontek dengan bebas itu juga memiliki ujian mental tersendiri. Terlebih kalau pengawas yang bertanggungjawab membiarkan hal itu dan malah pergi ke luar ruang ujian dengan santai.

Pernah saat ujian Fisika kelas 10, ujiannya sangat sulit, dan aku tahu teman-temanku juga merasa kesulitan, soalnya memang benar-benar sulit untuk kami saat itu, hingga pada akhirnya menyebabkan hampir seluruh kelas membuka buku catatannya saat ujian. Aku yang saat itu benar-benar bingung harus menjawab apa dan melihat buku catatan yang ada di kolong setiap meja kecuali aku, menjadi tertekan. Bahkan teman sekelasku yang aku tahu tidak mencontek pun membuka bukunya. Pengawasnya bahkan tidak peduli sama sekali dan tidak menegur. Itu adalah satu-satunya ujian yang membuatku menangis, pertama karena soalnya sangat sulit dan kedua karena yang lain dapat dengan mudah, sangat mudah, menyelesaikannya dan aku merasa tidak adil (soalnya mirip dengan soal latihan yang pernah diberikan, bahkan ketika mengerjakan soal latihan itu pun banyak dari kami yang masih kebingungan). Jadilah aku mendapatkan nilai paling rendah di kelas. Tentu saja, remedial. Ketika membagikan nilai, pengawas yang juga guru Fisika, berkata padaku, “Kenapa kamu bisa dapat nilai segini? Teman-temanmu yang lain bagus-bagus itu nilainya.”

Aku hanya bisa meringis saja saat itu.

Pernah juga suatu hari teman dekatku di SMA mengadu padaku. Katanya guru matematikanya bertanya padanya mengapa nilainya turun dan jelek dibandingkan dengan yang lain. Lalu temanku menjawab kalau hampir sebagian besar temannya yang mendapat nilai bagus itu mencontek. Sepengetahuanku, temanku yang satu ini memang rajin dan pintar jadi rasanya aneh jika dia tertinggal. Guru matematikanya menjawab bahwa itu tidak bisa dijadikan alasan. Sontak, temanku tersinggung mendengar pernyataan gurunya yang seperti itu dan mengadu padaku.

Belakangan aku baru sadar bahwa ternyata kata-kata beliau memang ada benarnya. Di dunia sekarang yang menuntut semuanya untuk serba instan, mencontek seperti sulit dilepas dari kehidupan. Bukan berarti semua usaha untuk memberantas kecurangan menjadi sia-sia, hanya saja hal itu memang sudah mengakar dan butuh usaha ekstra keras untuk merubah itu semua. Ketika kita sadar bahwa dunia kita seperti ini lalu kita hanya bisa menyalahkan keadaannya maka kita tidak akan pernah pergi kemanapun. Ibaratnya, jika kehidupan memang kotor dan kamu berniat untuk menjadi bersih, ya bersihkanlah dirimu itu dengan semangat. Tidak lantas hanya komplain kalau lingkungan sekitar yang kotor. Itu sudah jadi resiko yang harus diterima dan Allah sebagai Yang Maha Mengetahui tahu betul bahwa kamu itu bisa maka dari itu Ia menjadikan kamu berada di kondisi yang seperti ini. Lagipula, bukankah dengan begitu kamu menjadi manusia yang lebih terasah? Eaak

Ah, ribet banget, nyontek mah nyontek aja kali. 

Saking lumrahnya kegiatan mencontek menjadikan orang-orang tidak lagi menganggap bahwa mencontek itu salah dan melihat bahwa orang yang tidak mencontek itu hemm semacam menyusahkan dirinya sendiri(?). Aku juga tidak tahu bagaimana orang-orang memandang kami sih. Tapi mungkin beberapa ada yang memandang rendah dan beranggapan bahwa kami terlalu berlebihan. Bukankah nyontek adalah perkara kecil

Tapi ketika perkara korupsi diangkat, pasti semuanya teriak-teriak. Iyalah, itukan uang rakyat. Yap. Money’s rules the world. Padahal akar dari itu semua adalah perkara nyontek itu sendiri. Tidak sadarkah kalian juga sedang mencurangi banyak pihak?

Lalu, pun, ketika nyontek dianggap sebagai hal yang kecil, tidakkah mereka sadar bahwa mereka sedang menabung dosa? Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Begitulah kalimat yang sering diucapkan orang-orang. Lagipula, yang bakal ditanyakan nanti itu bukan berapa nilai-nilai ujian kamu atau berapa IPK kamu, tapi darimana kamu mendapatkan semua itu. Itulah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan oleh anggota tubuh kita dan mau sekuat apapun lidah mengelak ia tidak akan bisa.

Jadi sekarang kita ngomongin dosa? 

Ya, sebenarnya banyak sekali yang sadar tapi seolah-olah tidak sadar dengan perkara yang seperti ini saking lumrahnya. Lalu dengan kerendahan hati yang sangat aku hanya ingin kembali mengingatkan kepada saudara-saudaraku yang membaca ini karena saling mengingatkan adalah hal yang baik dan bukan berarti aku menjadi yang maha benar disini karena aku pun hanya manusia yang tertutup aibnya karena Allah yang Maha Pengasih.

Memang, rasanya sulit untuk menolak godaan mendapatkan nilai bagus dengan instan tanpa perlu berpusing-pusing dalam berpikir. Bahkan sebagian orang tua malah mendukung anaknya untuk mencontek. Hal ini diceritakan oleh temanku yang ingin berubah. Ia bercerita bahwa ia berusaha sekuat tenaga untuk jujur dalam ujian dan memang hasilnya tidak sememuaskan dulu namun dia senang dia berhasil melakukannya. Namun, ketika ia menceritakan hal itu pada orang tuanya, orang tuanya tidak setuju dia melakukan itu. Dan mungkin saja, orang tua di masa yang akan datang akan lebih mendukung anaknya untuk mencontek, toh pandangan mereka saat mereka masih muda saja sudah begitu kan.

Tapi, bukankah tujuan kita belajar sudah jelas. Untuk mendapat ridho-Nya, bukan untuk sekedar mendapat ijazah atau nilai, dan bukan hanya agar menjadi pintar. Ketika Allah sudah ridho, dipastikan semuanya akan lancar jaya. Jika yang menciptakan kamu saja tidak ridho bagaimana kamu mendapatkan berkah dalam hidup?

Tapi mereka-mereka bukankah hidupnya malah baik-baik saja? Sukses malah. 

Bisa jadi itu istidraj. Apa itu istidraj? Ketika seseorang diberi kenikmatan padahal ia terus menerus berbuat dosa, maka sebenarnya itu adalah azab Allah untuk melihat apakah dia akan bertaubat atau makin menjauh.

Lagi-lagi kita membahas agama?

Bukan lagi-lagi. Kita memang seharusnya hidup sesuai degan pedoman yang telah diturunkan oleh pencipta kita bukan? Lagipula, apa buruknya sih dari tidak mencontek? Membuat kamu sulit mendapat nilai bagus? Harus begadang dan pusing-pusing dulu saat belajar?

Ah, itu mungkin memang kamunya saja yang malas.

Tidak juga sih. Masalahnya gurunya yang ga bener ngajarnya.

Berarti pemahaman dari apa sejatinya belajar masih belum mengena dalam diri masing-masing. Karena ketika kamu haus akan ilmu dan benar-benar ingin belajar, kondisi tidak akan dijadikan alasan. Tidak menutup kemungkinan aku juga masih begitu dan masih banyak kekurangan. Jadi, mari saling mengingatkan! 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s