Hai, Kamu

Hai kamu yang merasa sedang direndahkan
Angkat kepalamu dan buktikan
Tanam dalam jiwamu kesungguhan
Kepal jarimu lalu janjikan

Bahwa kamu tidak seperti apa yang mulut orang-orang itu bicarakan
Bahwa kamu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan
Bahwa kamu akan mengubah semua impian jadi kenyataan
Bahwa kamu akan buktikan atas mereka yang salah telah meremehkan

Advertisements

Runner

Bagaimana tidak hebat?
Sejenius apapun seorang pelari tidak akan bisa sampai ke garis finish bila pelari itu berlari dengan mata tertutup. Tapi, kenapa dirinya berlari dengan mata tertutup? Oh, apa mungkin ia hapal trek yang bernama kehidupan ini sampai ke sudutnya, sampai ke masa depannya?
Kurasa tidak.
Ia pun tidak mengerti mengapa ia mengangkat penutup mata itu. Meninggalkan apa yang sebenarnya ingin ia lihat, ingin ia geluti, itu tidak mudah dan terlampau sulit.
Lalu ia melihat banyak orang berlari ke jalan yang mereka ingin. Trek mereka adalah masing-masing milik mereka dan mereka bebas memilih jalur. Dan ia hanya bisa berlari di sini dengan mata tertutup, tak tahu dimana garis finish miliknya.
Dan asal tahu saja, terkadang berlari bisa sangat melelahkan.

Domba dan Serigala

banyak serigala liar yang kelaparan
hanya ada sedikit domba berkeliaran

yang memang telah terlahir kuat dipastikan kenyang
yang memang telah terlatih kuat dipastikan kenyang

namun tidak hanya yang kuat yang ingin kenyang

di kompetisi itu, serigala itu sadar oleh realita
bahwa bahkan sesama serigala pun saling mencoba menang
bahkan rela saling mengkhianati kawan

di kompetisi itu, serigala itu sadar oleh realita
bahwa ia jauh tertinggal
bahkan sangat terbelakang

ia bukannya baru belajar
bahwa di depan matanya, sesama serigala memandang tajam
tapi ia hanya kembali tersadar
bahwa ia pun jadi incaran

oh, ia sangat lapar
tapi pertempuran di sana membuat gemetar
dan tak ada jalan memutar
dan memang ia tak mau memutar

namun jika ia hanya diam di tempat
ia hanya akan terinjak oleh lawan
yang terus berlari mengejar santapan
sementara ia hanya terpekur menatap dengan nanar
pada domba di ujung danau