Balada Tidak Mencontek

Hampir setiap orang memandang ujian di sekolah sebagai hal yang menakutkan. Padahal sejatinya manusia memang selalu dihadapkan dengan berbagai ujian, ujian kehidupan tepatnya. Tidak mungkin tidak ada manusia yang tidak menjalani ujian kecuali ia telah mati. Namun, ujian di sekolah ini agaknya memang menjadi sebuah ujian yang lebih besar daripada ujian-ujian yang lain dan bisa jadi juga dapat menjadi ujian yang benar-benar tak menghasilkan makna apapun di kehidupan sebagian orang.

Continue reading “Balada Tidak Mencontek”

Bali dan Pikiran Random di Kepala

Ketika aku menulis post ini bis yang membawa aku dan rombongan angkatan jurusan pada studi ekskursi jurusan tengah membawa kami meninggalkan Pulau Dewata menuju Jogjakarta. Mbok Putu selaku tour guide bis 2, bis yang mengangkut aku dan teman-teman, baru saja mengucapkan selamat tinggal pada kami. Yap, perjalanan di Bali selama 3 hari 2 malam alhamdulillah telah selesai dengan berbagai keadaan yang terjadi di dalamnya.

Apa yang aku pikirkan tentang Bali?

Salah satunya, panas. Mataharinya sangat panas dan terik menusuk kulit hingga kami yang baru saja keluar dari bis sudah dapat menebak nasib kulit kami yang nanti akan menghitam meskipun spf 50 telah dioleskan di seluruh permukaan kulit yang tampak.
Lalu aku berpikir…
Coba lihat, Bali bukanlah tempat yang memiliki suhu paling panas di bumi bukan? Apa bukan ya?
Bali bukanlah sepanas-panasnya api yang ada di bumi bukan? Lalu ketika aku melihat banyak teman-teman yang mengeluhkan panasnya Bali, aku berpikir, tidakkah mereka memikirkan bagaimana rasanya ketika matahari berada satu mil di atas kepala mereka? Ya, maksudku memang ketika seluruh manusia yang hidup di bumi dari awal hingga akhir zaman dikumpulkan di Padang Mahsyar tanpa alas kaki maupun pakaian.

Atau mungkin yang paling familiar adalah panasnya api neraka. Seluruh manusia yang beriman pastinya mengimani bahwa neraka itu ada dengan apinya yang jauh lebih panas dari api yang ada di bumi. Banyak yang percaya, namun tidak semuanya merasakan bahwa mereka bisa jadi dapat merasakan rasanya disiksa api neraka. Seolah-olah mereka tidak akan pernah mati dan segala perbuatan mereka tidak akan pernah dipertanggung jawabkan bahkan hal kecil sedikit pun. Dunia memang hanya senda gurau dan permainan belaka bukan? Dan manusia memang sangat suka bersenang-senang hingga tertipu bahwa kehidupan setelah mati itu jauh lebih baik.

Ah, aku yang banyak dosa ini bisa apa? Istighfarnya saja lebih banyak Rasulullah daripada aku, padahal beliau sudah dipastikan masuk surga.

Life = Game

Mungkin aku adalah satu dari sekian banyak orang yang dianugrahi masa kecil yang, secara pribadi, menurutku membahagiakan. Atau memang memoriku di masa aku sangat antusias berbicara sendiri dengan boneka hanya mengingat dan merasakan hal-hal baik. Meskipun, ya, dicubit itu menyakitkan dan dimarahi ketika tidak mau makan itu menyebalkan. Tapi, hanya sekedar itu.

Bahkan ketika masa tersulit dilewati, masa ketika banyak pegawai di pecat, ketika banyak darah di jalanan, ketika ekonomi merosot dan banyak orang dewasa stress dibuatnya, yang aku pikirkan hanyalah rasa kue yang ingin kumakan, permainan meniup gelembung yang kunantikan, atau istana pasir seperti apa yang ingin kubuat. Mau bagaimana lagi, aku masih anak-anak yang hanya memikirkan baju apa yang pantas dipakai di boneka kesayangan. Stress tidak ada dalam kamusku yang masih tipis saat itu. Belum.

Dan hal-hal seperti itu mungkin banyak menimbulkan harapan-harapan bagi orang-orang yang telah beranjak dewasa agar mereka kembali ke masa-masa kecil mereka. Mungkin aku diantaranya.

Namun, benarkah aku mengharapkan aku kembali menjadi Hanifah kecil yang sangat senang bahkan hanya saat aku diberikan permen?

Walaupun memang, ketika aku semakin dewasa konflik yang dialami menjadi lebih pelik dan tanggung jawab semakin banyak.

Tapi, ayolah…
Bahkan di dalam sebuah Game pun semua Players berlomba-lomba ingin Level Up!

Blog or Vlog

Ya, ini memang sepertinya blog yang semoga saja  akan menjadi blog yang akan sering aku urus. Bukan berarti aku benar-benar baru membuat blog, sebelumnya aku sudah banyak membuat tulisan, entah itu artikel atau sekedar cerita fiksi di blogger atau wordpress yang lain, tumblr, walaupun di tumblr cuma bisa reblog-reblog dan posting hal-hal tidak jelas, serta asianfanfics sejak awal masuk SMA. Namun, entah kenapa mood menulis selalu naik-turun dan alhasil bertebaranlah halaman-halaman yang tidak terurus di halaman web. Tapi dengan mengumpulkan seluruh niat kembali, akhirnya muncullah kemauan untuk mengintegrasikan, halah, halaman-halaman web yang tidak terurus itu dan jadilah ini dan semua data-data yang tidak jelas sudah terhapus bersih.

Memang mungkin kelihatannya orang-orang sekarang lebih suka untuk membuat Vlog ketimbang Blog. Buktinya saja, aku yang tidak terlalu suka membuka YouTube setidaknya tahu beberapa dan pernah menonton vlog yang berisi tentang bagaimana seseorang menceritakan kegiatan yang ia lakukan. Bahkan tugas ospek sekarang pun di kampusku adalah membuat vlog. Namun, Blog? Continue reading “Blog or Vlog”